Skip to main content

Kecerdasan Buatan Takkan Gantikan Manusia, Tapi..

Jakarta – Munculnya teknologi kecerdasan buatan dikhawatirkan akan mengambil alih pekerjaan manusia. Apa benar?

Dijelaskan Robin Chao, VP & Managing Director Sage Software, tak bisa dipungkiri kalau kecerdasan buatan lambat laun akan mengambil alih peran manusia. Tapi bukan berarti manusia kehilangan pekerjaan. Di sisi lain kecerdasan buatan justru membuka peluang hadirnya lapangan pekerjaan baru.

“Kecerdasan buatan tidak akan mengganti pekerjaan manusia, tapi menghilangkan bagian yang tidak efisien,” ujarnya di hotel Pulman, MH. Thamrin, Jakarta.

Foto: Yudhianto/detikINET

Kekhawatiran ini sama dengan yang sempat dialami perusahaan konvensional ketika era digital mulai masif. Tumbuhnya layanan berbasis aplikasi secara tak langsung telah memberi dampak bagi perusahaan konvensional yang terlambat mengikuti tren pasar.

Oleh karenanya, transformasi digital seakan menjadi suatu keharusan bagi perusahaan saat ini. Apalagi menurut riset, digitalisasi memungkinkan pertumbuhan pendapatan hingga 80%. Belum lagi munculnya peluang bisnis baru yang tentunya membuka lapangan pekerjaan baru.

“Tak bisa dipungkiri digitalisasi bisa berdampak pada efisiensi karyawan, tapi di sisi lain sebenarnya juga menciptakan peluang pekerjaan baru,” jelasnya.

Selain itu, transformasi digital juga bisa menjadi titik balik bagi perusahaan yang sebelumnya merasa terusik, menjadi pengusik.

Tapi semua itu tak lepas dari implementasi yang dilakukan. Menurut Robin, cara paling efisien menerapkan transformasi digital salah satunya adalah dengan memanfaatkan solusi cloud, yang dipadukan dengan kecerdasan buatan.

Tujuan implementasi kecerdasan buatan dilakukan demi memungkinkan otomatisasi di berbagai sektor, sementara di saat yang sama kecerdasan buatan mampu memberikan penilaian terhadap target yang diinginkan.

Sebagai contoh, kecerdasan buatan akan mampu membaca kebiasaan pengguna dalam tujuannya untuk menyimpulkan layanan yang paling sesuai bagi pengguna tersebut.

Lebih lanjut, Sage yang merupakan penyedia solusi cloud mengklaim memiliki layanan yang mampu menjawab tantangan tersebut. Tak hanya untuk perusahaan besar, tapi untuk semua segmen sampai ke kelas startup.

Sage juga sesumbar solusi cloud miliknya didesain untuk bisa mengikuti pertumbuhan bisnis penggunanya. Jadi ketika bisnis perusahaan bertumbuh, solusi Sage diklaim akan mampu mengikuti perkembangannya
.
“Kami punya solusi dari startup sampai enterprise, dan kami telah menyiapkan untuk mengikuti perusahaan yang meng-upgrade bisnisnya,” umbar Robin.

“500 perusahaan di Indonesia yang menjadi klien kami melalui partner mayoritas adalah UKM. Mereka sudah banyak yang bergeser jadi perusahaan kelas medium, kami menyebutnya UKM-besar,” pungkasnya. (rou/rou)

sumber: detik.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *